Teman Dekat atau Hanya Sekedar Berteman

Saya pastikan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Kita sakit maka kita akan mencari dokter, walaupun misalnya anda seorang dokter. Seringkali kita melakukan suatu aktivitas membutuhkan orang lain (baca : teman). Teman pun banyak macamnya. Ada yang tulus berteman dengan kita, ada pula karena ada keinginan dibalik pertemanan tersebut. Untuk kasus keinginan yang baik tidak masalah..nah kalo keinginan buruk dan merugikan kita…pikir2 dulu deh!

Berteman adalah biasa buat kita. Teman juga punya tingkatannya. Ada teman yang hanya sekedar “say hello…“, ada yang kemana2 selalu dengan teman yang itu-itu saja tapi tidak terikat sebagai teman berbagi, dan ada pula teman yang tidak selalu bersama tapi terikat sebagai teman berbagi. Eiit, jangan berfikir teman berbagi itu sama dengan pasangan kita (bahasa gaulnya pacar deh). Tapi pacar bisa jadi teman berbagi…ini bisa jadi lho. Mungkin juga tidak bisa jadi teman berbagi…tergantung pacarnya…hehehehe.

Nah ini intinya, kita bisa jadikan seseorang itu teman dekat untuk berbagi dan saling memberi solusi (yaa…walaupun kadang solusi bisa cocok kadang tidak. Kembali lagi ke kita masing-masing) atas permasalahan yang teman kita ataupun kita hadapi. Ini namanya simbiosis mutualisme. Tapi untuk menjadikan seseorang teman berbagi butuh pertimbangan-pertimbangan khusus. Salah satunya menurut saya adalah kemampuan teman kita dalam memahami apa yang menjadi masalah kita. Kalo sampe untuk kasih saran jitu sih, jangan dulu kali yaa… saya aja masih kurang PD ngasih saran ke teman (hmm.. no body is perfect-lah). Kecuali memang bener-bener deket. Minimal dia mampu merasakan apa yang kita rasakan dan mampu memberikan kita ketenangan dalam menghadapi masalah yang kita hadapi (semacem support gitu deh..).

Terakhir, jangan pilih teman dekat yang hanya dekat ketika dia punya masalah sementara setelah dia lewati masalah tersebut, dia menjadi seperti orang yang lupa sama kita…paling males kalo ketemu orang kayak gini. Biarlah dia menjadi teman yang hanya sekedar berteman, bukan teman dekat.

Mohon maaf kalo ada salah tulis, jika ada yang perlu ditambahkan atau di kritik…silahkan lho…saya terbuka untuk menerimanya.

Wassalam.

RedHawkRevo

(LendRosShinobi – honda_motor@yahoogroups.com)

AKHIRNYA SIM-PUN KUDAPAT…

Cerita ini sebenarnya adalah lanjutan dari kisah sebelumnya (SIM – DILEMA ATURAN). Ya, akhirnya saya ikuti setiap tahapan pembuatan SIM yang panjang. Mulai dari Tes Teori hingga Praktek. Untuk Tes Teori, saya sempat mengulang sebanyak dua kali, dan Tes Praktek hingga tiga kali. Total lamanya waktu pembuatan SIM saya ini kurang lebih 4 (empat) bulan, sejak Februari 2008.

 

Pada saat Tes Teori yang kedua, saya mulai dengan strategi melihat banyaknya jawaban benar dan salah (no. berapa yang salah dan benar) di lembar jawaban sebelumnya. Kemudian dengan sigap ku perbaiki hanya nomor yang salah saja. Ternyata, ada pemberitahuan bahwa bagi yang mengulang, soal berbeda dengan soal sebelumnya.. Sial, aku sudah dengan percaya diri mengerjakannya ternyata salah. Mulailah saya membaca soal satu persatu sambil mengganti jawaban yang di awal tadi. Kucermati tiap pertanyaan, ku kira-kira jawaban yang benar. Logika ketika di jalan pun ikut bermain. Dan sebelumnya saya sudah mempelajari tata tertib di jalan yang kudapat dari sebuah komunitas kendaraan bermotor melalui internet, Forum Safety-Riding Jakarta (FSRJ), yang isinya tata tertib serta makna marka jalan (gila yaa…ampe nyari bahan buat ujian SIM and ada gunanya juga lho kita ikutan milis komunitas entah itu mobil maupun motor). Akhirnya saya lolos dan langsung ujian praktek di daerah GOR BEKASI.

 

Hmmm…. begitu sampai di lokasi, langsung down ngeliat uji prakteknya. Gilaa….. sempit amat jarak antar balok untuk motor melakukan maneuver zig-zag. akhirnya saya diminta mengulang 2 minggu berikutnya (pertengahan Maret). Mengulang yang kedua masih down juga… (heran kok pak Polisi instrukturnya aja bisa kok gw gak bisa?!). Tes jalan lurus di antara balok (kanan kiri) lancar, tapi zig-zag lagi…… Duuuh…. akhirnya ngulang lagi untuk kali ketiga. Mau tau berapa lama jeda waktunya?? Dua Bulan….Gubrakksss.. Lama amat Pak???!!

 

Tibalah waktu dua bulan itu pada hari Sabtu, 17 Mei 2008. “Fiiiuuuuuhhhh… stress gw”, kalo Tes Teori sih bisa nyari bahannya lewat Oom Google, tapi Praktek… ??!.  Saya sampai di GOR BEKASI (lagi) jam 10.00. Daftar trus nunggu giliran. Hari itu banyak yang lulus. Ada satu orang yang saya kagum… wuiiihh kayak naek sepeda aja, enteng banget meliuk-liuknya. Tapi sayang gak tau kenapa dia gagal…

 

Tiba giliran saya… saya pake motor saya sendiri (Honda Revo CW). saya atur duduk, lalu jalan. Untuk trek lurus, lancar… nah ini dia yang menentukan… trek zig-zag. Saya atur duduk lagi, jalan, oper gigi dua…. it’s show time. Alhamdulillah bisa lewat sampe ujung. Kemudian balik lagi. Nah sempet kaki saya turun gara-gara terlalu pelan jalannya. “Ooowww… jangan sampe gw ngulang lageee, cyapee deeee”. 5 balok lagi….. 4 balok… 3 balok… 2 …. Finish line, dan……”GW LULUS MAAAAAAAKKKK…….”. Langsung saya temui instrukturnya, tanda tangan, yak…. next destination… Polres lagi.

 

Menunggu….setengah jam… satu jam….. satu jam 15 menit….. ting!!! saya dipanggil untuk foto. Antri sebentar, lampu blitz menyala…. saya keluar dengan senyum… hehehehehe. Menunggu sekitar 15 menit, nama dipanggil…… “hehehehe…gw punya SIM”.

 

Oia… waktu ngantri untuk foto, ada Bapak-bapak nanya ke saya, “lagi bikin SIM?, berapa lama?, semua tes di ikutin??, ngulang sampe total 3 bulan?????”. “gw heran, ni orang nanya kayak wartawan”. Saya jawab dengan PD-nya. Eeeeeee….. terakhir saya nanya, “emang bapak juga lagi bikin SIM??”. “iya”. “ngulang juga??”. “ah gak, saya nembak lewat orang asuransi, saya masuk aja kedalem kena 350 rebu”….. Bagaimana rasanya mendengar penjelasan tersebut??? hayoooo, yang lagi baca, bagaimana??? Rasanya gak perlu saya ekspresikan rasanya. Cukup tau sama tau saja. But Eniwe, saya berhasil “menaklukan” ujian SIM, mandiri, Cuma 100 rebu, pake lama, tapi saya bisa belajar bagaimana seharusnya di jalan raya…. Mungkin di Indonesia sudah dipenuhi orang-orang seperti bapak tadi, jadinya lalu lintas di Indonesia, khususnya Jakarta, ancur amburadul.. Hmmm…. Buka Mata Ini Nyata Hanya di Indonesia…. (pinjem lagi ah…)

Hati-hati di depan McD Buaran (Ceceran Tanah Proyek BKT)

Hampir semua orang di Jakarta uda gak mau lagi kena yang namanya BANJIR, oleh karenanya PEMDA DKI JAKARTA memulai pembangunan proyek BKT a.k.a Banjir Kanal Timur. Buat yang tinggal di daerah seputaran Jakarta Timur, pasti tau jalan raya Casablanca dari arah Pondok Kopi. Disini sedang ada pengerukan tanah yang nota bene untuk proyek BKT. tapi dampaknya yaa….mau gak mau harus siap menerima dong.

 

Salah satu contoh, di jalan raya sepanjang proyek BKT berlangsung banyak tanah-tanah yang berceceran di jalan. Yang begini, bikin dilema kalo lewat jalan ini (sepanjang jalan raya Casablanca mulai dari arah Buaran sample Bypass). Pasalnya kalo habis hujan, jalan jadi sangat becek dan licin. Nah kalo lagi gak hujan, debunya bukan main.

 

Ada satu kejadian di malam hari tanggal 2 Mei 2008 kemarin. Waktu itu saya sedang menuju pondok bambu lewat jalan Casablanca dari arah bioskop buaran. Ketika sedang antrian lampu merah McD terjadi peristiwa yang bikin pengendara yang sedang mengantri lampu merah miris sekaligus geram. Pasalnya, di depan McD sudah 5 (lima) motor yang terjatuh.

 

McD ini letaknya di pojokan lampu merah yang ke arah Buaran dari arah pondok bambu. Setiap pengendara yang ingin ke arah buaran boleh langsung belok ke kiri. Nah, kebetulan pinggiran kiri jalan menjelang lampu merah McD dari arah pondok bambu sangat becek dan licin karena tanah dari proyek BKT ini. Seperti biasa, pengendara motor khususnya bisa lewat pinggir ini walaupun dipadati mobil. Ketika berbelok, biasanya para pengendara motor langsung tarik gas dan dengan jarak kurang lebih 1-2 meter setelah menikung ada motor yang terjatuh diikuti motor berikutnya hingga total 5 (lima) motor dalam waktu 15 menit… EDAN…. Syukurlah tidak sampai memakan korban jiwa, karena saat itu kendaraan sedang padat-padatnya. Pihak keamanan McD dan tukang ojek di sana langsung memberikan pertolongan sekaligus mengingatkan kepada pengendara motor yang baru berbelok untuk berhati-hati.

 

Dari cara jatuhnya, tampak seperti ban kehilangan grip karena licinnya permukaan ban hingga bagian tepi ban. Ini terjadi lantaran motor-motor yang terjatuh tadi melewati pinggiran yang becek itu. Tanah yang bercampur air menjadi lumpur yang sangat berbahaya bagi pengendara motor lantaran ban jadi licin dan kehilangan grip. Oleh karena itu, saya mau informasikan kepada seluruh Bikers untuk berhati-hati jika melewati jalan Casablanca di sepanjang Pondok Bambu – Buaran – Pondok Kopi terutama yang mau belok ke arah buaran. Harap berhati-hati ketika keluar tikungan McD Buaran. Pinggir jalan yang becek bisa bikin ban kehilangan grip pada saat membelok.

 

 

 

Lendrosshinobi

 Member Milis Honda Riders on the Internet (HORNET)

honda_motor@yahoogroups.com

shinobi46@gmail.com

RED REVO (B 6233 KNB)

S.I.M – Dilema Aturan

Suatu waktu dikala cuti libur nasional aku mau coba berurusan dengan polisi. Bukan cari perkara atau lapor kehilangan tapi mengurus pembuatan Surat Izin Mengemudi a.k.a SIM. Setelah bersiap diri di rumah aku berangkat sekitar pukul 8 pagi menuju kantor Samsat terdekat. Setiba disana aku langsung lapor pos di pintu masuk. “Ada keperluan apa Mas?” tanya seorang petugas. “Mo ngurus SIM pak” jawabku. “Langsung masuk aja mas” jelas sang petugas.

 

Sudah menjadi rahasia umum kalo pembuatan SIM di negara ini tidak bisa dilepaskan dari CALO. Pada hari itu ada yang aneh. Diruangan mengurus SIM tidak seramai bayanganku. Orang-orang tertib duduk dalam antrian, sedikit sekali orang lalu-lalang dan sepertinya tidak ada orang “pendamping” si pemohon. Lama aku berkeliling berharap ada orang yang mau menawarkan “bantuan” ternyata nihil. Setelah beberapa lama aku bertemu dengan orang “dalam” yang pernah mengurus SIM adikku. “wah, kebetulan nih ketemu ama dia” bisikku. Singkat cerita, berdasarkan informasi yang diberikan ternyata sudah agak lama calo tidak beroperasi dan diapun sudah tidak bisa kasih “bantuan” lagi. “sial” bisikku. Apakah ini suatu pertanda baik birokrasi urusan pembuatan SIM di kepolisian? Aku berharap demikian.

Akhirnya aku mengurus sendiri. Mulai dari cek kesehatan, bayar asuransi, bayar bank dan mengumpulkan berkas permohonan SIM ke loketnya. Setelah beberapa jam (bete nungguin sekitar kurang lebih 3 jam), aku dipanggil untuk mengikuti tes tertulis. Selesai tes, ternyata disuruh mengulang 2 minggu lagi. “Sial ternyata masih sama aja kayak dulu” omelku. Dulu aku pernah mencoba mengurus sendiri ternyata disuruh mengulang sampe dua kali. Yang pertama disuruh datang dua minggu setelah tes pertama. Yang kedua disuruh datang dua bulan setelah tes kedua. Berhubung dulu itu masih kuliah di Semarang, kan gak mungkin bolak-balik terus, mengingat biaya yang dikeluarkan. Apa sekarang masih seperti itu? Sepertinya sih iya.

Tes Pertama

Selama aku ikutin secara resmi, rasanya tidak pernah kurang dari 50% pertanyaan kujawab dengan benar (total 30 butir pertanyaan). Bahkan pernah sampai sekitar 55% atau 17 pertanyaan kujawab dengan benar. Tapi tetap tidak lulus. Ukuran mereka harus 60% terjawab dengan benar yang artinya 18 butir soal harus benar. Yang jadi tanda tanya besar, Apa orang yang benar-benar 60% menjawab benar itu sudah bisa dipastikan berprilaku baik dijalan?. Dengan interval waktu demikian panjang dan lebih panjang lagi jika mengulang, kurasa malah membuat orang malas membuat SIM secara resmi. Logika berpikir dong, buang-buang waktu. Makanya orang memilih lewat calo ketimbang resmi.

Untuk tes kedua (praktek I dan II) aku masih belum ada bayangan seberapa lama lagi waktu yang dibutuhkan jika mengulang. Yang jelas hanya buang-buang waktu.

Dilema

Memang menjadi suatu dilema buat kita yang ingin mengurus SIM. Pakai Calo lebih cepat tapi hanya memberikan keuntungan bagi si calonya, kalo urus resmi, uang masuk ke kas negara tapi butuh waktu yang sangat panjang. Kalo pihak kepolisian ingin memberantas percaloan, harus dipikirkan lagi birokrasi yang tidak banyak memakan waktu supaya citra kepolisian khususnya Polantas terangkat.

Dukung

Sejujurnya aku mendukung program dari kepolisian memberantas percaloan mengurus SIM hanya saja perlu diperbaiki sistem birokrasinya. Bayangkan, uang yang masuk murni masuk ke kas negara dan tidak dikonsumsi segelintir orang. Khusus untuk ujian SIM, apabila mengulang lebih baik diberikan pengarahan singkat tentang lalu lintas. Bagaimana sikap dan berperilaku dijalan. Dengan demikian orang yang mengurus SIM bisa dapat tambahan pengetahuan tentang lalu lintas. Kalo pengamatanku yang ada sekarang, pihak Polantas menganggap seolah-olah semua orang sudah paham betul mengenai Lalu lintas,sehingga waktu ujian banyak yang tidak bisa dijawab dengan benar dan tetap “bodoh” karena tidak tahu apakah yang dijawab tadi sudah benar atau masih salah (benar yang bagaimana, salah yang bagaimana kita tidak tahu).. Not educated at all, Babarblas ora nana pendidikan’e.

Aku mendukung sepenuhnya upaya Polantas dalam memberantas percaloan tapi juga harus dibarengi perbaikan birokrasi sehingga “melindungi dan melayani” menjadi slogan positif yang kuat melekat di kepolisian.

Kalo melihat situasi sekarang sih, kehadiran calo masih diharapkan. Karena untuk sebagian besar orang, mengurus SIM yang harus bolak-balik ke Samsat adalah buang-buang waktu.. tapi yaah mo gimana, lagi-lagi warga masyarakat harus bersabar karena kelakuan birokrasi. Mudah-mudahan ini adalah permulaan dari perbaikan pelayanan Kepolisian kepada masyarakat, bukan Cuma karena ada yang lagi “ngawasin”… hehehehe.

Pake calo salah, cara resmi laamaaaaaa buaangettttt!!!!

Bagaimana ini Pak Kapolda???

Buka mata ini nyata hanya di Indonesia.

(mengutip slogan segmen “Hanya Di Indonesia” Nuansa Pagi RCTI).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.